seperti temen kalo butuh, gue baru buka lagi blog ini setelah berbulan bulan dibiarkan terbengkalai dengan tujuan yang kurang bermanfaat (bagi siapapun...). memang udah banyak yang nanyain kenapa gue ga update blog lagi, cuma ya, begini deh:
sesuka sukanya lo sama suatu hal, kalo lo dikasih itu terus ya demek juga. atau kalo bahasa ekonominya, mungkin, tingkat kepuasannya akan menurun.
jadi begitulah, kadang gue bosen juga nulis, apalagi nulisnya yang berat-berat. kadang gue mikir apa iya biar blog ini ngga sepi itu tugas-tugas gue dimasukkin ke sini? (siapa juga yang mau baca anw)
bonus tugas gue mata kuliah reportase kemarin, dari 3 berita baru 2 yang dipost. beritanya juga ngga menarik menarim banget tapi proses di balik berita itu...alamakjan bikin gue rasanya pengen cepet cepet jadi istri pengusaha.
http://liputan.tersapa.com/pengojek-yogyakarta-tak-takut-bersaing-dengan-ojek-urban/
http://liputan.tersapa.com/upaya-pengaturan-ojek-yogyakarta/
Monday, June 8, 2015
Monday, September 15, 2014
For The First Time
Gue merasa gue punya masalah. Masalah sepele yang entah
kenapa gue rasa besar.
Somehow gue merasa keputusan gue untuk masuk jurusan
Komunikasi itu bener-bener tepat. Gue harus belajar banyak karena sepertinya
gue bukan seorang komunikator yang baik. Gue merasa gue bisa menempatkan diri
dengan objektif. Gue bisa berempati sama orang lain. Gue bisa mengerti
permasalahan orang lain dengan cara berhasil menempatkan perasaan di posisi
dia. Gue sering nerima respon kayak “lo ngerti gue banget” dan “yang lo bilang
bener juga sih” atau semacamnya.
Tapi gue nggak menemukan orang yang bisa begitu sama gue.
Kadang gue ngerasa lingkungan gue begitu kasar. Entah apa konsep ‘rude’ dalam
bahasa Indonesia, tapi ‘rude’ itu sendiri lebih mewakilkan apa yang gue rasakan
dibanding ‘kasar’. Ya, gue hampir nggak menemukan orang yang bisa menempatkan
diri di sudut pandang gue. Entah orang orang di sekitar gue nggak ada yang
berusaha, atau memang sudut pandang gue sulit untuk disibak sama orang lain.
Atau mungkin karena masalah gue komunikator yang buruk itu
tadi, jadi orang lain nggak bisa dengan presisi menempatkan diri mereka di
posisi gue? Bahkan orang terdekat gue, dia nggak pernah bisa ngerti kalo gue
marah atau ngerasa nggak nyaman. Dia nggak pernah bisa ngerti makna marah dan
diamnya gue.
“...and we don’t know
how, how we got into this mad situation, only doing things out of frustration.
Trying to make it work, but, man, these times are hard.”
Dan gue masih di sini, mikirin hubungan gue yang mendadak
nggak seindah dulu, muter-muter lagu For
The First Timenya The Script berulang-ulang, sambil menimbang-nimbang
apakah tulisan amburadul ini akan gue masukkin blog atau enggak. Dari beberapa
jam yang lalu gue merangkai kata-kata yang tepat, supaya ada orang yang bisa
ngerti apa yang gue maksud dengan tepat, terutama dia.
Padahal udah berbulan-bulan gue merasakan kalo dia itu orang
yang tepat, istilahnya kayak ‘he is the one’. Tapi karena satu masalah yang
berakar dari kebiasaannya dia (yang notabene sebenernya gue harusnya udah bisa maklumi)
gue mulai ragu sama apa yang gue yakini ini. Sejujurnya bukan cuma
sekali dua kali gue ngebayangin what if ‘gue menikah sekarang’ things (well randomly). Tadinya
gue mikir 70-80% bahwa gue pasti bisa, toh gue udah dewasa.
Tapi ketika ada masalah yang sekecil kerikil aja tiba-tiba
gue goyah.
“...and we don’t know
how, how we got into this mess, is it God’s test? Someone help us ‘cause we’re
doing our best.”
Gue tau gue kuat, gue bisa bertahan. Nggak sekali dua kali
gue berpikir untuk menyerah (man, lo kira ngejalanin ini nggak berat?). Tapi
gue selalu ingat sama masa lalu yang pernah sama-sama kita alami. Kita lewati
bersama, yang kemudian bikin kita berdua kembali lagi seperti ini. Itu kenangan
yang bener bener pahit, walaupun kalo hal itu nggak terjadi, gue nggak yakin
‘kita’ masih ada. Tapi tetep aja, gue nggak mau kembali lagi seperti itu,
melewati masa-masa suram hanya karena gue melakukan sesuatu dengan gegabah dan
tanpa pertimbangan yang matang. Hasilnya hanya penyesalan yang nggak selesai-selesai.
Untungnya semesta masih baik sama kita, karena kemudian kita
dipertemukan kembali entah bagaimana ceritanya, sehingga kita merasa saling
takut kehilangan, karena kita sama-sama pernah mengalaminya. What a bitter
sweet.
Nope nope masalah ini nggak ada hubungannya dengan orang
lain, yang sedemikian rupa bisa mempengaruhi suasana hati gue sesaat maupun
beberapa saat. Orang lain bahkan nggak ada mampir di pikiran gue setelah dia
hilang dari pandangan. Out of sight, out of mind. Well, i hope so.
Tapi beneran deh pikiran gue bener-bener dipenuhi cuma sama dia, which is good. Sayangnya penuhnya bukan karena hal-hal baik tentang dia, which is not good.
“We’re smiling but
we’re close to tears, even after all these years. We just now got the feeling
that we’re meeting for the first time.”
Cukup sarkastik dan gue merasa tersindir, walaupun nggak
tepat. Nobody is smiling, and i am the only person that is close to tears, well
so fucking close. Pernah nggak sih lo begitu berat berpikir tentang hubungan lo
dengan dia, tapi kemudian lo berprasangka jangan-jangan gue dong yang mikirin,
gue doang yang mencemaskan, gue doang yang capek...dia enggak?
Mengenai apa yang gue rasakan sekarang, enggak seekstrim
perasaan waktu kami pertama bertemu, sih. Gue masih sayang kok. So fuckin madly
deeply in love like before. Well, not like really before karena, nah di sini
anehnya, gue merasa ada yang beda atas apa yang gue rasakan. Love is usually
good, but now it feels like pain for keeping it inside here. And that big
amount of love feels like...........tons or more of pain.
Kesimpulan
Ini hanya masa-masa sulit biasa. Sebentar lagi ini akan
berlalu, persis seperti sebelum-sebelumnya. Selama kami masih bertahan dan
tidak menyerah, which is exactly what are we going to do.
“Oh, these times are
hard, yeah, they’re making us crazy.
Don’t give up on me, baby.”
Sunday, May 18, 2014
Solo, Saksi Bisu Perkembangan Komunikasi di Indonesia
Study tour,
saya kira hanya ada di bangku TK hingga SMA. Ternyata saya juga merasakannya di
bangku kuliah. Hanya saja namanya berbeda, lebih keren dan terdengar intelek: field trip. Trip satu hari ke kota
tetangga ini hanya dialami di semester kedua Jurusan Ilmu Komunikasi UGM,
sebagai pemenuhan mata kuliah Sejarah Sosial dan Media. Tujuan kami adalah ke
dua tempat menarik di kota Solo, Jawa Tengah, yaitu studio rekaman Lokananta
dan Monumen Pers Nasional.
Mbak Dosen Mutia meminta kami semua datang lebih awal, yaitu pukul enam pagi. Angka yang begitu
horor bagi saya, karena hari sebelumnya saya baru saja pulang dari travelling
akhir pekan ke Bandung, Jawa Barat. Masih dalam tahap pemulihan tenaga dan
finansial, saya harus menyeret paksa tubuh saya ke kampus pagi-pagi buta.
Menunggu beberapa jam di San Siro, sekitar pukul delapan baru kami naik ke atas
bus dan memulai perjalanan kami. Bus
yang kami tumpangi ternyata bus yang bagus dan nyaman, senang rasanya.
![]() |
| ruang rekaman |
Sekitar
pukul setengah sepuluh, kami tiba di studio rekaman Lokananta. Dari luar tempat
ini terlihat usang dan gersang, membuat saya menerka-nerka hal apakah yang
membuat tempat ini menjadi destinasi field
trip tiap tahun. Kami dibawa ke suatu ruangan luas dengan dinding dan
plafon yang begitu unik. Ternyata tempat itu juga difungsikan untuk rekaman dan dibuat sedemikian rupa berdasarkan sistem suara. Beberapa pihak lokananta juga ada di sana, memberi
sambutan dan hal-hal pengantar mengenai tempat
Hal menarik
yang dapat saya simpulkan adalah bahwa Lokananta adalah studio rekaman pertama
di Indonesia. Lokananta memiliki teknologi yang canggih dari dulu hingga
sekarang. Pada mulanya, Lokananta didirikan dengan visi dan misi budaya, yaitu
mempersatukan kebudayaan-kebudayaan tiap daerah di Indonesia, terutama
lagu-lagu daerah. Musisi-musisi budaya juga banyak berkembang berkat keberadaan
Lokananta, seperti pesinden legendaris, Waljinah dan Gesang, pencipta lagu
Bengawan Solo yang terkenal sampai ke mancanegara. Seiring berjalannya waktu,
musisi-musisi modern juga banyak yang mengadakan rekaman di Lokananta, sebut
saja Glenn Fredly, Shaggydog, dan Efek Rumah Kaca.
![]() |
| pemutar piringan hitam |
Selain itu,
kami juga mengunjungi ruangan yang menyerupai museum, karena berisi
barang-barang tua dan sudah tidak berfungsi lagi, seperti alat pengganda kaset,
pemutar piringan hitam, serta beberapa alat lain yang tidak berhasil saya
identifikasi kegunaannya. Terakhir kami mengunjungi ruangan re-mastering,
sebuah ruangan yang nyaman dan berfungsi untuk merekam ulang suara dari
sumber-sumber konvensional seperti piringan hitam dan pita ke dalam bentuk
digital. Kami diberi keleluasaan untuk masuk dan ‘mengacak-acak’ ruangan ini,
padahal ruangan ini biasanya terlarang selain untuk staf. Di sana kami
diperdengarkan lagu Glenn Fredly, dengan suara yang begitu jernih dan halus.
Ruang re-mastering tersambung dengan ruangan penyimpanan yang menyimpan rapi
beratus-ratus gulungan pita, dan salah satunya adalah rekaman pidato proklamasi
Soekarno.
Setelah
puas berkeliling, kami berfoto di depan pintu utama Lokananta sambil menikmati
serabi Solo yang begitu enak. Jujur saja, saya baru kali ini menikmati serabi
yang sedemikian enak. Kami kemudian melanjutkan perjalanan dan berhenti di
Restoran Taman Sari untuk istirahat, salat, dan makan siang.
Destinasi
kedua, Monumen Pers Nasional. Saya sangat antusias datang ke gedung ini karena
saya menaruh minat di bidang jurnalistik. Sebuah gedung besar dengan ornamen
candi di atasnya, dan dihiasi naga dengan posisi terlentang di sisi-sisi
tangga, terkesan artistik. Pertama, kami disambut dengan video profil Monumen
Pers Nasional, sebuah video yang menjelaskan mengenai sejarah, perkembangan,
dan kegunaan bangunan ini. Kami masing-masing juga mendapatkan booklet yang berisi keterangan mengenai barang-barang
bersejarah yang berhubungan dengan jurnalistik.
Gedung
Monumen Pers Nasional terdiri dari lima lantai, dan masing-masing lantai berisi
ruangan-ruangan tertentu. Gedung ini menyimpan arsip-arsip media cetak,
terutama surat kabar dan majalah. Monumen Pers Nasional memiliki surat
kabar-surat kabar tua yang sudah menguning bahkan edisi-edisi pertama dari
berbagai surat kabar. Koleksi surat kabar tertua milik Monumen Pers Nasional
adalah surat kabar Panorama, terbit pada 23 Mei 1917, hampir satu abad yang
lalu. Monumen Pers Nasional juga menyimpan edisi-edisi bersejarah surat kabar, antara
lain surat kabar yang memberitakan tentang meninggalnya mantan presiden
Soekarno, berita peristiwa proklamasi Indonesia, bahkan surat kabar yang
merupakan propaganda Jepang di Indonesia. Surat-surat yang fisiknya sudah tua
ini difoto dengan resolusi tinggi dan bisa dibaca secara digital, karena saking
tuanya sudah tidak aman lagi jika dipamerkan pada umum secara fisik.
Monumen
Pers Nasional juga memiliki enam diorama yang menggambarkan perkembangan media
dari masa ke masa. Tak hanya itu, ada juga delapan patung dada yang berada di
kanan dan kiri ruang utama, merupakan patung dari tokoh-tokoh perintis pers di
Indonesia.
Selama ini
saya selalu menebak-nebak, apa yang harus saya lakukan dan ke mana saya harus
pergi jika saya ingin mengadakan penelitian, katakanlah membuat skripsi, yang
mengharuskan saya mencari info di surat kabar hingga beberapa tahun ke
belakang. Perpustakaan biasa hanya menyimpan surat kabar dalam jangka waktu
tiga bulan, atau paling lama satu tahun. Maka dari itu saya gembira dan tidak
menyesal datang ke sini, karena saya mengetahui bahwa pengunjung bisa dengan
bebas meminjam surat kabar modern edisi lama, seperti lima atau sepuluh tahun
yang lalu. Monumen Pers Nasional sangat memfasilitasi hal ini, dan bagi saya
merupakan tempat yang tepat.
Satu hari
perjalanan ke Solo hari itu begitu luar biasa bagi saya. Saya selalu suka
pelajaran yang diadakan di luar kelas, karena pasti mengasyikkan dan tidak
membosankan. Terlebih jika diadakan gratis dan berlimpah makanan seperti ini.
Friday, May 2, 2014
home?
Buka blog dan ngerasa kayak udah super lama nggak ngepost apa-apa. Mungkin dulu hasrat menulis gue yang super besar sampe saban ari nulis di blog nggak udah udah, sementara sekarang hasrat menulis sudah tersalurkan lewat tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Sesuka-sukanya juga lo sama sushi tapi kalo setiap hari pagi siang malem makan sushi ya demek juga.
Dulu laptop gue kalo di url ditype ‘a’ aja langsung auto link ke blog gue. Sementara sekarang udah nulis lengkap alamat blog, ternyata di history gue bener bener nggak ada alamat blog. Maaf ya blog.
Somehow melihat template blog gue aja udah bikin gue flashback rumah dan laptop lama. That pink and that font. Flashback perasaan-perasaan yang dulu pernah muncul dan mendorong gue untuk nulis di blog.
Flashback tentang masa-masa indah itu. Walaupun ada beberapa perasaan buruk yang mendorong gue untuk nulis, tapi ketika hal itu dibaca ulang dan dijadikan sebuah media buat nostalgia, rasanya tetep aja indah. Gue scroll blog gue sampe bawah. Dari paling baru sampe paling lama. Dari gue masuk kuliah sampe gue masuk SMA.
Rasanya menakjubkan banget untuk mengingat-ingat lagi momen-momen yang pernah lo jalani bersama orang-orang tersayang lo. Sama orang-orang yang dulu deket banget tapi sekarang udah nggak saling ngabarin lagi. Menakjubkan banget mengetahui what an amazing high school live I’ve got. Keren rasanya mengingat-ingat bahwa gue pernah punya temen yang bangga sama gue, mereka juga sayang sama gue, pernah punya orang orang yang penuh respect sama gue, bergantung sama gue, butuh gue, pernah ada orang-orang yang merasa kehilangan kalo enggak ada gue, merasa kurang tanpa gue dan maksa gue untuk datang kumpul apapun alasannya. Sebaliknya, gue juga punya orang-orang yang bisa bikin gue ngerasa kayak gitu. Ada teman-teman yang begitu gue sayang, gue hormati, gue bangga temenan sama dia…
I miss things, I miss people, I miss moments, I miss places.
And I’m here feeling a huge homesick, seconds, minutes, hours, and days after I did my late-night-nostalgia.
Tuesday, January 14, 2014
Sapa Matahari kepada Bulan
biasanya lagu yang bener-bener ngena adalah lagu yang dibuat sesuai kisah nyata. karya yang bagus juga biasanya dibuat sesuai suasana hati pembuatnya. demikian juga sama karya berikut ini. ini puisi bikinan temen gue yang galaunya nggak udah-udah. tugas UAS bikin puisi pun menjadi pelampiasan.
pertama baca, keliatannya puisi ini cengeng banget untuk ukuran laki-laki (dan gue tau kalo dia lagi curhat). tapi setelah gue baca bener-bener, kata-katanya dalem dan filosofinya bagus banget. somehow ini seperti puisi cinta, atau memang puisi cinta, tapi cinta yang udah patah dan nggak bisa direkatin lagi (as if...). tapi yang gue nggak ngerti, dari mana temen-gue-yang-nggak-mau-disebut-namanya-ini bisa menganalogikan kisahnya sebagai matahari dan bulan. sementara cuma Tuhan yang tau dengan pasti kisah cinta mereka, dia bisa bikin seolah mereka benar-benar dua sejoli yang berpisah.
Sapa Matahari
kepada Bulan
Apakah engkau malu menyapaku ?
Aku tidak tahu
Hanya untuk sekedar bertemu melepas
rindu, engkau pun tak mau
Jurang hitam telah menjadi sekat kita
Tejebak dan mengambang tanpa ruang
berpijak
Aku berada diantara ribuan, bahkan jutaan
Mengendap-endap mengintipmu tapi
engkau menutup wajahmu
Selalu ada yang menghalangi untuk
memandangmu
Aku memberimu kehangatan, engkau malah
memberikan keindahan
Untuk yang lain...
Aku mencoba memberimu kehidupan, tapi engkau
tidak menerimanya
Atau memang takdir mengatakan demikian
Pernah kita bersama, lalu terpisah
Pernah kita sangat dekat, tapi engkau
malah berputar menghindar
Aku ingin menggapaimu, untuk kesekian
kali
Apakah kita di izinkan bersama?
Hanya Tuhan yang bisa menjawab
Atau mungkin saat kita bersama
kembali, semua sudah berakhir
Kiamat
A.A
Subscribe to:
Posts (Atom)



