Wednesday, December 13, 2017

Qualifications

This is a short journey, honey.
Or you might think this is not journey, at all.
We met each other deep in darkness, I met what I was looking for, but you did not.

We have few commons:
We like movies
We like good talk for hours
We like to give good answers
And we are proud of ourselves
We have not met anybody who is qualified, have we?

But totally, we are different:
We talked about stars
And I know that you like cigs, drinks, and sex,
but I don’t.
We talked about lambs and chicken,
And I know that you don’t like Dunkirk and The Punisher,
but I do.
You like Ben Affleck’s chin, and I like your lips.

Am I qualified? Are you?

We have not talk a lot, you have not knew me well
You did not give enough chance for yourself to fall in love to more than my body
I told you to love me
And my personality and my bad and my kindness and my soul
But I am not qualified, you probably whispered.

We talked a lot enough, I knew you pretty well.
You called me when you were high. You said truth: about you, about us.
I hate every single thing slipped out from your mouth.
I hate every single thing on your body and mind.

You are not qualified. At all.

But I really want you to.
Because you get my 9.5 out of 10.

But instead, you chose to step out from the journey

Because you realized, we don’t deserve each other.



Saturday, December 2, 2017

Fighter

Aku tidak ingat kapan pernah menyerah sebelum ini. Aku yakin aku pejuang. Aku selalu jadi pihak yang berusaha untuk berjuang.

Tapi tidak kali ini. Oh jadi begini rasanya.

Buruk.
Kalah.

I’m a quitter.
I’m a damn quitter.

Does it make me a loser?

If yes, ah, no wonder.

Aku pernah punya – katakanlah – pacar. Di satu titik, dia menyerah. Dia menyerah sama aku. Dia menyerah begitu saja, meninggalkan aku yang sedang berusaha sendirian. Rasanya seperti kamu sedang membuat rumah, menyusun tumpukan batu berdua. Dia merasa tidak kuat, dan bilang “maaf aku nggak kuat. Aku udahan ya.” Dan dia pergi, meninggalkan aku yang – obviously – ketiban batu bata yang runtuh lantaran dia pergi.

Aku tau rasanya jadi aku. Sakit. Iya sakit ketiban bebatuan begitu.

Tapi di bawah tumpukan batu itu, aku bisa sedikit senyum. Aku bangga bahwa aku bukan orang yang menyerah. Aku kuat untuk berjuang, dan semua yang terjadi di luar kendaliku. Aku lebih hebat daripada dia.

Tapi aku penasaran rasanya jadi dia. Apa dia merasa seburuk yang aku rasakan ketika aku menyerah? Apa dia merasa bersalah? Atau dia sempat merasa ragu “aku ambil keputusan benar atau enggak ya?”


Aku hanya penasaran.

20s

Di usia dua puluh tahun, semua hal jadi berbeda. “Shits just got really serious,” adalah kutipan paling masuk akal di usia 20an. “Wisuda,” “lulus kuliah,” “menikah,” “hamil,” “anak,” “pajak,” “bos,” “kantor,” adalah kosakata yang akan lebih sering terdengar ketika kamu masuk usia 20an. Kamu akan merasa lebih dewasa, antusias sekaligus was-was.

Siapa yang minta aku untuk jadi dewasa? Tolong di-pause dulu. Agak nanti deh mulainya.

Tapi dunia tetap berputar, jam tetap berjalan maju, kalender tetap jalan. Kamu tetap jadi dewasa.
Kamu punya tanggung jawab yang tadinya kamu tidak punya. Semua rasanya dilempar begitu saja ke wajahmu, dan karenanya kamu baru sadar “the fuck is this?”

Di usia ini kamu juga mulai bisa lihat mana temanmu yang memang ada di sana, mana yang cuma permisi-misi numpang lewat. Kamu mulai simpan teman-temanmu yang dekat dan berguna buat hidupmu ke depannya, dan tetap menjaga mereka supaya mereka tidak pergi.

Kamu rela menghabiskan waktu untuk mereka, menjadi teman yang baik, dengar cerita mereka dari A sampai Z, dan berharap mereka akan melakukan hal yang sama buatmu. Kamu juga berusaha lebih percaya pada mereka dan meletakkan sebagian hidupmu ke mereka – karena hidupmu makin berat, kamu bingung bagaimana cara membawanya sendiri.

Tapi mungkin sebagian dari mereka – di satu titik lainnya – akan membuatmu berpikir dua kali: “kalau yang ini pantas disimpan gak yah?”

Dan kamu akan tetap tahan untuk berteman dengannya sampai kamu bisa temukan sendiri jawabannya.

Seleksi itu masih berlangsung sampai sekarang.


Habis ini siapa?

Friday, December 1, 2017

Phoncial Anxiety

Aku menjauhi ponselku. Dadaku berdegup agak lebih kencang ketika ponselku bunyi. Siapa yang menghubungi, dan mau apa?

Jadi maaf buat kalian, kalau aku balas lama – atau tidak balas. Aku lebih memilih bicara dengan orang di depan mukaku ketimbang buka ponsel dan bicara dengan orang yang mungkin tidak aku inginkan.


Pelari

Aku mungkin bisa beri tahu alasanku menyerah. Tidak ada yang tahu juga bahwa aku punya sejuta alasan untuk ini, dan aku bisa berikan alasan yang berbeda ke tiap orang.

Dan ini, aku beri satu lagi di sini:

Aku merasa buruk mengerjakan hal-hal ini. Semua yang kurasakan di luar ekspektasiku. Aku tidak punya kendali atas apapun, aku tidak bisa bergerak dengan bebas.

Rasanya seperti aku dikurung di sangkar kawat dan sayapku dipotong, kemudian mereka memintaku untuk terbang. Aku sudah mencoba sebisaku, sekuatku, tapi aku mentok di atap sangkar. Semua orang tetap menyemangati dan bilang “terbangmu bagus kok, kamu pasti bisa terbang lebih baik lagi.” Tapi aku sadar, aku tidak terbang. Mungkin aku mentok di atap sangkar, tapi karena melompat. Melompat bukan terbang. Melompat hanya bisa sampai sana, terus berhenti.

Aku menyerah untuk terbang.

Aku bilang ke orang lain: aku pelari. Aku selama ini pelari. Walau sampai kram kakiku dan jatuh terguling tubuhku, tapi aku bisa terus berlari.

Akhirnya mereka bilang “ya, kamu pelari. Sekarang keluar dari sangkar ini, dan berlarilah.”

Aku keluar sangkar dengan dagu terangkat tinggi, namun tidak ada yang melihat hatiku mencelos. Satu kebanggaan dalam diriku runtuh. Kukira aku bisa melakukan apa saja.

Aku bisa melakukan apa saja. Aku sepertinya bisa terbang. Aku punya sayap – walaupun sayap itu direnggut. Aku memang pelari, tapi apa itu berarti aku tidak bisa terbang? Atau mungkin aku hanya tidak berusaha keras belajar terbang?

Hi, how are you? I am fine, thanks.

Aku tidak baik-baik saja. Itu jawabannya, kalau ada yang bertanya.
Mungkin aku pantasnya jadi pemain film, mungkin karena aku pintar berpura-pura dan membuat orang mengira persis seperti apa yang aku inginkan. Aku dramatis, dan sudah diakui sekitar empat dari lima orang, atau mungkin lebih. Yassss, I love drama.

Banyak hal yang terjadi belakangan ini, membuat aku berpikir dua kali bagian mana yang mesti aku ceritakan, dan bagian mana yang tidak; dan kepada siapa aku mesti cerita. Aku punya banyak teman dekat, tapi – tik tok – waktu lama-lama melaporkan siapa saja yang bisa tidak usah dipercaya.

Kupikir aku depresi, tapi mungkin kata itu terlalu kuat. Jadi tidak – aku tidak depresi. Mungkin sebagian temanku iya, tanpa mereka sadari. Aku beruntung nasibku masih agak sedikit cukup lebih lumayan baik dibanding mereka. Tapi aku bukannya depresi. Ini cuma – hmm, bagaimana istilahnya ya – shock, terkejut, kaget, tidak sesuai ekspektasi.

Aku tertawa dan bercanda dengan orang lain tiap hari, aku hang out hampir setiap hari, bahkan sampai hampir pagi kalau akhir pekan. Aku punya banyak orang yang bisa aku telepon begitu saja dan rela dengar keluhanku berjam-jam. Aku bahkan punya uang yang (rasanya lebih dari) cukup untuk beli hal-hal yang bisa membuat aku merasa baikan.

Tapi terus kenapa ada sesuatu yang masih terasa salah?

Jika seseorang bertanya “bagaimana cara mengatasi depresi” padaku, aku mungkin akan bilang “just literally go fuuuccckkk yourself.” Yep.

No. No, ternyata aku bilang kata-kata yang menghibur dan menyenangkan, seperti “take it easy,” “liburan,” “hang out,” “main.”

Orang itu bertanya pada orang yang mengatasi rasa stresnya dengan menyerah. 

Dia berharap aku bilang apa?





Dude, I gave up. I quit. I tell you once more: I quit.

Monday, October 12, 2015

Fanwar: Trivialisasi Ruang Publik

Memasuki era masyarakat global, di mana internet sudah menjadi barang wajib, media-media sosial pun tak luput menjadi tempat untuk berdiskusi dan bertukar informasi. Lebih baiknya lagi, partisipan bisa berasal dari manapun, tanpa terbatas ruang dan jarak. Tak hanya bicara setingkat balai desa atau balai kota yang mengumpulkan penduduk dari satu kota, media sosial bisa mempertemukan masyarakat dari belahan dunia yang berbeda. Pertemuyan virtual ini nampak begitu berharga untuk kemudian para partisipan saling bertukar informasi dan pemahaman atas suatu isu dari sudut pandang budaya yang berbeda.

Menindaklanjuti hal ini, pengusaha media sosial pun berlomba untuk membuat ruang publik yang lebih kondusif untuk para penggunanya saling berdiskusi. Beberapa media sosial bahkan melengkapi media mereka dengan fitur yang dikhususkan untuk berkumpul dan berdiskusi. Hal ini tentu saja merupakan perbaikan yang positif, di mana pengelola media memiliki sensitivitas yang tinggi atas kebutuhan publik, kemudian mewujudkannya dalam bentuk pembaharuan yang bertahap dan berkelanjutan di media mereka masing-masing.

Demikian juga dengan media sosial Facebook, di mana kita mengenal adanya fitur group, yaitu ruang tersendiri di mana para pengguna bisa mengumpulkan anggota grup dan bebas membicarakan hal yang berhubungan dengan dunia mereka. Grup ini merupakan ruang publik yang bisa digunakan untuk menghimpun opini dan memberi pemahaman baru dengan bertukar pikiran dengan orang lain. Kita bisa merasakan sendiri fitur ini memiliki kegunaan yang besar, karena anggota kelompok memiliki privasi mereka dalam membahas internal kelompok. Anggota yang dikumpulkan pun beragam, mulai dari lembaga formal virtual, kelompok pertemanan, kelompok semi formal, bahkan tak jarang grup digunakan untuk berdiskusi mengenai sebuah isu, tanpa anggotanya saling kenal dengan anggota lainnya.

Tapi makin luas lingkupnya, makin beragam pula penggunaannya. Tak jarang juga penggunaan grup di media sosial mengalami penurunan dari segi kualitas, misalnya seperti contoh di bawah ini:





Sumber utama foto ini sebenarnya tidak jelas dan tidak ditemui aslinya. Namun gambar ini telah ditemukan berulang kali dipost di beberapa akun media sosial, terutama media sosial yang berhubungan dengan fanatic domain tertentu. Dari judul grup sudah terlihat, “DEBAT Beliebers VS Alicious (Official Group)” mengandung dua nama fanatic domain besar nasional dan internasional. Beliebers merupakan nama dari fanatic domain penyanyi asal Kanada, Justin Bieber, sementara Alicious merupakan fanatic domain aktor dan pemain sinetron Indonesia, Aliando Syarief.

Walaupun miris, namun sekilas grup ini terlihat begitu menghibur jika dilihat dari sudut pandang orang di luar fanatic domain. Entah apa isi yang dibahas di dalam grup tersebut, entah apa yang diperdebatkan oleh para penggemar Justin Bieber dan Aliando Syarief, yang pada dasarnya memiliki kelas yang berbeda dan bahkan jenis dunia hiburan yang berbeda. Mereka tidak saling mengenal, apalagi memiliki masalah satu sama lain yang pantas diperdebatkan. Hal itulah yang membuat kita bertanya-tanya apakah gerangan yang menjadi konten pembahasan di dalamnya.

Anehnya lagi, konten yang kebetulan tersebar dari grup tersebut malahan yang tidak berhubungan sama sekali, baik dengan Justin Bieber maupun Aliando Syarief. Pesan di dalam grup juga melibatkan dua fanatic domain besar, yang lagi-lagi berada di kelas yang berbeda, yaitu Directioner, fanatic domain  dari boyband asal Inggris yang merupakan salah satu fanatic domain terbesar di dunia, serta Comate, fanatic domain dari boyband remaja tanggung asal Indonesia, Cowboy Junior. Pesan dari gambar tersebut sendiri menunjukkan sindiran tajam seorang Comate pada Directioner. Ia menuduh One Direction meniru apa yang dilakukan oleh Cowboy Junior. Padahal logikanya, kedua grup penyanyi ini berada di liga yang jauh berbeda, dan hal yang dituduhkan pun tidak masuk akal, seperti keluar dari grup dianggap plagiat, memiliki Twitter, memiliki mobil, dan bahkan kesamaan status pun dianggap plagiat. Entah harus tertawa atau menangis melihatnya.

Inilah yang menjadi salah satu masalah dalam ruang publik, yaitu trivialisasi, di mana kualitas isu yang dibahas di ruang publik mengalami penurunan.  Sekilas tak ada yang salah dengan grup ini. Asumsi orang akan mengarah ke sekelompok anak-anak kecil hingga remaja tanggung yang merupakan penggemar dari tokoh-tokoh tersebut. Padahal sejatinya, sayang sekali jika ruang publik serta partisipasi masyarakat, terutama mereka yang masih muda, difokuskan pada isu tidak penting seperti ini. Terutama ketika sebenarnya tidak ada masalah yang sungguhan terjadi antara satu kelompok dengan kelompok lain, namun kemudian dengan adanya grup diskusi malah timbul sentimen antargrup dan mendorong munculnya fanwar atau perang antar fanatic domain yang dilatarbelakangi alasan tidak logis.

Hal ini diperparah dengan kepedulian serta pemahaman media para orang tua yang turut mengalami penurunan. Anak-anak kecil kadang sudah diberikan pegangan gawai di usia yang begitu muda, padahal mereka belum memiliki pondasi pemahaman penggunaan media yang kuat. Mereka kemudian belajar bermedia dan berinteraksi dengan orang lain di dunia virtual secara otodidak, di mana sumber yang mereka imitasi belum tentu benar. Patut disayangkan, padahal mungkin jika sebagian besar orang tua memliki peran dalam pelajaran bermedia anak-anaknya, mungkin hal ini tidak akan terjadi hingga berlarut-larut. Orang tua memang bukan satu-satunya faktor, namun tetap saja keluarga merupakan sumber pendidikan utama yang patut dipersalahkan pertama kali atas kelakuan anak-anaknya.

gambar:
Line One Direction For Us. 2015. Line Official. (tanpa tautan).

Monday, June 8, 2015

ke mana aja loe

seperti temen kalo butuh, gue baru buka lagi blog ini setelah berbulan bulan dibiarkan terbengkalai dengan tujuan yang kurang bermanfaat (bagi siapapun...). memang udah banyak yang nanyain kenapa gue ga update blog lagi, cuma ya, begini deh:
sesuka sukanya lo sama suatu hal, kalo lo dikasih itu terus ya demek juga. atau kalo bahasa ekonominya, mungkin, tingkat kepuasannya akan menurun.

jadi begitulah, kadang gue bosen juga nulis, apalagi nulisnya yang berat-berat. kadang gue mikir apa iya biar blog ini ngga sepi itu tugas-tugas gue dimasukkin ke sini? (siapa juga yang mau baca anw)

bonus tugas gue mata kuliah reportase kemarin, dari 3 berita baru 2 yang dipost. beritanya juga ngga menarik menarim banget tapi proses di balik berita itu...alamakjan bikin gue rasanya pengen cepet cepet jadi istri pengusaha.

http://liputan.tersapa.com/pengojek-yogyakarta-tak-takut-bersaing-dengan-ojek-urban/

http://liputan.tersapa.com/upaya-pengaturan-ojek-yogyakarta/


Monday, September 15, 2014

For The First Time

Gue merasa gue punya masalah. Masalah sepele yang entah kenapa gue rasa besar.

Somehow gue merasa keputusan gue untuk masuk jurusan Komunikasi itu bener-bener tepat. Gue harus belajar banyak karena sepertinya gue bukan seorang komunikator yang baik. Gue merasa gue bisa menempatkan diri dengan objektif. Gue bisa berempati sama orang lain. Gue bisa mengerti permasalahan orang lain dengan cara berhasil menempatkan perasaan di posisi dia. Gue sering nerima respon kayak “lo ngerti gue banget” dan “yang lo bilang bener juga sih” atau semacamnya.

Tapi gue nggak menemukan orang yang bisa begitu sama gue. Kadang gue ngerasa lingkungan gue begitu kasar. Entah apa konsep ‘rude’ dalam bahasa Indonesia, tapi ‘rude’ itu sendiri lebih mewakilkan apa yang gue rasakan dibanding ‘kasar’. Ya, gue hampir nggak menemukan orang yang bisa menempatkan diri di sudut pandang gue. Entah orang orang di sekitar gue nggak ada yang berusaha, atau memang sudut pandang gue sulit untuk disibak sama orang lain.

Atau mungkin karena masalah gue komunikator yang buruk itu tadi, jadi orang lain nggak bisa dengan presisi menempatkan diri mereka di posisi gue? Bahkan orang terdekat gue, dia nggak pernah bisa ngerti kalo gue marah atau ngerasa nggak nyaman. Dia nggak pernah bisa ngerti makna marah dan diamnya gue.

“...and we don’t know how, how we got into this mad situation, only doing things out of frustration. Trying to make it work, but, man, these times are hard.”

Dan gue masih di sini, mikirin hubungan gue yang mendadak nggak seindah dulu, muter-muter lagu For The First Timenya The Script berulang-ulang, sambil menimbang-nimbang apakah tulisan amburadul ini akan gue masukkin blog atau enggak. Dari beberapa jam yang lalu gue merangkai kata-kata yang tepat, supaya ada orang yang bisa ngerti apa yang gue maksud dengan tepat, terutama dia.

Padahal udah berbulan-bulan gue merasakan kalo dia itu orang yang tepat, istilahnya kayak ‘he is the one’. Tapi karena satu masalah yang berakar dari kebiasaannya dia (yang notabene sebenernya gue harusnya udah bisa maklumi) gue mulai ragu sama apa yang gue yakini ini. Sejujurnya bukan cuma sekali dua kali gue ngebayangin what if ‘gue menikah sekarang’ things (well randomly). Tadinya gue mikir 70-80% bahwa gue pasti bisa, toh gue udah dewasa.

Tapi ketika ada masalah yang sekecil kerikil aja tiba-tiba gue goyah.

“...and we don’t know how, how we got into this mess, is it God’s test? Someone help us ‘cause we’re doing our best.”

Gue tau gue kuat, gue bisa bertahan. Nggak sekali dua kali gue berpikir untuk menyerah (man, lo kira ngejalanin ini nggak berat?). Tapi gue selalu ingat sama masa lalu yang pernah sama-sama kita alami. Kita lewati bersama, yang kemudian bikin kita berdua kembali lagi seperti ini. Itu kenangan yang bener bener pahit, walaupun kalo hal itu nggak terjadi, gue nggak yakin ‘kita’ masih ada. Tapi tetep aja, gue nggak mau kembali lagi seperti itu, melewati masa-masa suram hanya karena gue melakukan sesuatu dengan gegabah dan tanpa pertimbangan yang matang. Hasilnya hanya penyesalan yang nggak selesai-selesai.

Untungnya semesta masih baik sama kita, karena kemudian kita dipertemukan kembali entah bagaimana ceritanya, sehingga kita merasa saling takut kehilangan, karena kita sama-sama pernah mengalaminya. What a bitter sweet.

Nope nope masalah ini nggak ada hubungannya dengan orang lain, yang sedemikian rupa bisa mempengaruhi suasana hati gue sesaat maupun beberapa saat. Orang lain bahkan nggak ada mampir di pikiran gue setelah dia hilang dari pandangan. Out of sight, out of mind. Well, i hope so.

Tapi beneran deh pikiran gue bener-bener dipenuhi cuma sama dia, which is good. Sayangnya penuhnya bukan karena hal-hal baik tentang dia, which is not good.

“We’re smiling but we’re close to tears, even after all these years. We just now got the feeling that we’re meeting for the first time.”

Cukup sarkastik dan gue merasa tersindir, walaupun nggak tepat. Nobody is smiling, and i am the only person that is close to tears, well so fucking close. Pernah nggak sih lo begitu berat berpikir tentang hubungan lo dengan dia, tapi kemudian lo berprasangka jangan-jangan gue dong yang mikirin, gue doang yang mencemaskan, gue doang yang capek...dia enggak?

Mengenai apa yang gue rasakan sekarang, enggak seekstrim perasaan waktu kami pertama bertemu, sih. Gue masih sayang kok. So fuckin madly deeply in love like before. Well, not like really before karena, nah di sini anehnya, gue merasa ada yang beda atas apa yang gue rasakan. Love is usually good, but now it feels like pain for keeping it inside here. And that big amount of love feels like...........tons or more of pain.

Kesimpulan
Ini hanya masa-masa sulit biasa. Sebentar lagi ini akan berlalu, persis seperti sebelum-sebelumnya. Selama kami masih bertahan dan tidak menyerah, which is exactly what are we going to do.
“Oh, these times are hard,  yeah, they’re making us crazy. Don’t give up on me, baby.”


Sunday, May 18, 2014

Solo, Saksi Bisu Perkembangan Komunikasi di Indonesia

Study tour, saya kira hanya ada di bangku TK hingga SMA. Ternyata saya juga merasakannya di bangku kuliah. Hanya saja namanya berbeda, lebih keren dan terdengar intelek: field trip. Trip satu hari ke kota tetangga ini hanya dialami di semester kedua Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, sebagai pemenuhan mata kuliah Sejarah Sosial dan Media. Tujuan kami adalah ke dua tempat menarik di kota Solo, Jawa Tengah, yaitu studio rekaman Lokananta dan Monumen Pers Nasional.

Mbak Dosen Mutia meminta kami semua datang lebih awal, yaitu pukul enam pagi. Angka yang begitu horor bagi saya, karena hari sebelumnya saya baru saja pulang dari travelling akhir pekan ke Bandung, Jawa Barat. Masih dalam tahap pemulihan tenaga dan finansial, saya harus menyeret paksa tubuh saya ke kampus pagi-pagi buta. Menunggu beberapa jam di San Siro, sekitar pukul delapan baru kami naik ke atas bus dan memulai  perjalanan kami. Bus yang kami tumpangi ternyata bus yang bagus dan nyaman, senang rasanya.
ruang rekaman
Sekitar pukul setengah sepuluh, kami tiba di studio rekaman Lokananta. Dari luar tempat ini terlihat usang dan gersang, membuat saya menerka-nerka hal apakah yang membuat tempat ini menjadi destinasi field trip tiap tahun. Kami dibawa ke suatu ruangan luas dengan dinding dan plafon yang begitu unik. Ternyata tempat itu juga difungsikan untuk rekaman dan dibuat sedemikian rupa berdasarkan sistem suara. Beberapa pihak lokananta juga ada di sana, memberi sambutan dan hal-hal pengantar mengenai tempat
tersebut. Beberapa hal kami bahas, seperti sejarah, alasan didirikannya Lokananta, serta perkembangannya.

Hal menarik yang dapat saya simpulkan adalah bahwa Lokananta adalah studio rekaman pertama di Indonesia. Lokananta memiliki teknologi yang canggih dari dulu hingga sekarang. Pada mulanya, Lokananta didirikan dengan visi dan misi budaya, yaitu mempersatukan kebudayaan-kebudayaan tiap daerah di Indonesia, terutama lagu-lagu daerah. Musisi-musisi budaya juga banyak berkembang berkat keberadaan Lokananta, seperti pesinden legendaris, Waljinah dan Gesang, pencipta lagu Bengawan Solo yang terkenal sampai ke mancanegara. Seiring berjalannya waktu, musisi-musisi modern juga banyak yang mengadakan rekaman di Lokananta, sebut saja Glenn Fredly, Shaggydog, dan Efek Rumah Kaca.

pemutar piringan hitam

Kemudian kami berkeliling Lokananta, melihat-lihat ruangan-ruangan yang menyimpan rapi saksi bisu perkembangan musik Indonesia. Kami mengunjungi ruangan penyimpanan piringan hitam. Ruangan yang kami masuki tidak terbilang luas, serta dipenuhi rak-rak yang berisi piringan-piringan hitam. Jujur, pada saat itulah pertama kali saya melihat piringan hitam sungguhan, padahal sebelum-sebelumnya hanya melihat di film kartun dan film-film tua. Tak hanya itu, saya menemukan rekaman Waljinah, Rasa Sayange, serta yang paling menakjubkan adalah rekaman pertama lagu Indonesia Raya (tertulis Indonesia Raja di sampulnya).

Selain itu, kami juga mengunjungi ruangan yang menyerupai museum, karena berisi barang-barang tua dan sudah tidak berfungsi lagi, seperti alat pengganda kaset, pemutar piringan hitam, serta beberapa alat lain yang tidak berhasil saya identifikasi kegunaannya. Terakhir kami mengunjungi ruangan re-mastering, sebuah ruangan yang nyaman dan berfungsi untuk merekam ulang suara dari sumber-sumber konvensional seperti piringan hitam dan pita ke dalam bentuk digital. Kami diberi keleluasaan untuk masuk dan ‘mengacak-acak’ ruangan ini, padahal ruangan ini biasanya terlarang selain untuk staf. Di sana kami diperdengarkan lagu Glenn Fredly, dengan suara yang begitu jernih dan halus. Ruang re-mastering tersambung dengan ruangan penyimpanan yang menyimpan rapi beratus-ratus gulungan pita, dan salah satunya adalah rekaman pidato proklamasi Soekarno.
kojel sendiri udah biasa :')

Setelah puas berkeliling, kami berfoto di depan pintu utama Lokananta sambil menikmati serabi Solo yang begitu enak. Jujur saja, saya baru kali ini menikmati serabi yang sedemikian enak. Kami kemudian melanjutkan perjalanan dan berhenti di Restoran Taman Sari untuk istirahat, salat, dan makan siang.

Destinasi kedua, Monumen Pers Nasional. Saya sangat antusias datang ke gedung ini karena saya menaruh minat di bidang jurnalistik. Sebuah gedung besar dengan ornamen candi di atasnya, dan dihiasi naga dengan posisi terlentang di sisi-sisi tangga, terkesan artistik. Pertama, kami disambut dengan video profil Monumen Pers Nasional, sebuah video yang menjelaskan mengenai sejarah, perkembangan, dan kegunaan bangunan ini. Kami masing-masing juga mendapatkan booklet yang berisi keterangan mengenai barang-barang bersejarah yang berhubungan dengan jurnalistik.

Gedung Monumen Pers Nasional terdiri dari lima lantai, dan masing-masing lantai berisi ruangan-ruangan tertentu. Gedung ini menyimpan arsip-arsip media cetak, terutama surat kabar dan majalah. Monumen Pers Nasional memiliki surat kabar-surat kabar tua yang sudah menguning bahkan edisi-edisi pertama dari berbagai surat kabar. Koleksi surat kabar tertua milik Monumen Pers Nasional adalah surat kabar Panorama, terbit pada 23 Mei 1917, hampir satu abad yang lalu. Monumen Pers Nasional juga menyimpan edisi-edisi bersejarah surat kabar, antara lain surat kabar yang memberitakan tentang meninggalnya mantan presiden Soekarno, berita peristiwa proklamasi Indonesia, bahkan surat kabar yang merupakan propaganda Jepang di Indonesia. Surat-surat yang fisiknya sudah tua ini difoto dengan resolusi tinggi dan bisa dibaca secara digital, karena saking tuanya sudah tidak aman lagi jika dipamerkan pada umum secara fisik.

Monumen Pers Nasional juga memiliki enam diorama yang menggambarkan perkembangan media dari masa ke masa. Tak hanya itu, ada juga delapan patung dada yang berada di kanan dan kiri ruang utama, merupakan patung dari tokoh-tokoh perintis pers di Indonesia.

Selama ini saya selalu menebak-nebak, apa yang harus saya lakukan dan ke mana saya harus pergi jika saya ingin mengadakan penelitian, katakanlah membuat skripsi, yang mengharuskan saya mencari info di surat kabar hingga beberapa tahun ke belakang. Perpustakaan biasa hanya menyimpan surat kabar dalam jangka waktu tiga bulan, atau paling lama satu tahun. Maka dari itu saya gembira dan tidak menyesal datang ke sini, karena saya mengetahui bahwa pengunjung bisa dengan bebas meminjam surat kabar modern edisi lama, seperti lima atau sepuluh tahun yang lalu. Monumen Pers Nasional sangat memfasilitasi hal ini, dan bagi saya merupakan tempat yang tepat.


Satu hari perjalanan ke Solo hari itu begitu luar biasa bagi saya. Saya selalu suka pelajaran yang diadakan di luar kelas, karena pasti mengasyikkan dan tidak membosankan. Terlebih jika diadakan gratis dan berlimpah makanan seperti ini.

Friday, May 2, 2014

home?

Buka blog dan ngerasa kayak udah super lama nggak ngepost apa-apa. Mungkin dulu hasrat menulis gue yang super besar sampe saban ari nulis di blog nggak udah udah, sementara sekarang hasrat menulis sudah tersalurkan lewat tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Sesuka-sukanya juga lo sama sushi tapi kalo setiap hari pagi siang malem makan sushi ya demek juga.

Dulu laptop gue kalo di url ditype ‘a’ aja langsung auto link ke blog gue. Sementara sekarang udah nulis lengkap alamat blog, ternyata di history gue bener bener nggak ada alamat blog. Maaf ya blog.

Somehow melihat template blog gue aja udah bikin gue flashback rumah dan laptop lama. That pink and that font. Flashback perasaan-perasaan yang dulu pernah muncul dan mendorong gue untuk nulis di blog.
Flashback tentang masa-masa indah itu. Walaupun ada beberapa perasaan buruk yang mendorong gue untuk nulis, tapi ketika hal itu dibaca ulang dan dijadikan sebuah media buat nostalgia, rasanya tetep aja indah. Gue scroll blog gue sampe bawah. Dari paling baru sampe paling lama. Dari gue masuk kuliah sampe gue masuk SMA.

Rasanya menakjubkan banget untuk mengingat-ingat lagi momen-momen yang pernah lo jalani bersama orang-orang tersayang lo. Sama orang-orang yang dulu deket banget tapi sekarang udah nggak saling ngabarin lagi. Menakjubkan banget mengetahui what an amazing high school live I’ve got. Keren rasanya mengingat-ingat bahwa gue pernah punya temen yang bangga sama gue, mereka juga sayang sama gue, pernah punya orang orang yang penuh respect sama gue, bergantung sama gue, butuh gue, pernah ada orang-orang yang merasa kehilangan kalo enggak ada gue, merasa kurang tanpa gue dan maksa gue untuk datang kumpul apapun alasannya. Sebaliknya, gue juga punya orang-orang yang bisa bikin gue ngerasa kayak gitu. Ada teman-teman yang begitu gue sayang, gue hormati, gue bangga temenan sama dia…

I miss things, I miss people, I miss moments, I miss places.


And I’m here feeling a huge homesick, seconds, minutes, hours, and days after I did my late-night-nostalgia.

Tuesday, January 14, 2014

Sapa Matahari kepada Bulan

biasanya lagu yang bener-bener ngena adalah lagu yang dibuat sesuai kisah nyata. karya yang bagus juga biasanya dibuat sesuai suasana hati pembuatnya. demikian juga sama karya berikut ini. ini puisi bikinan temen gue yang galaunya nggak udah-udah. tugas UAS bikin puisi pun menjadi pelampiasan.
pertama baca, keliatannya puisi ini cengeng banget untuk ukuran laki-laki (dan gue tau kalo dia lagi curhat). tapi setelah gue baca bener-bener, kata-katanya dalem dan filosofinya bagus banget. somehow ini seperti puisi cinta, atau memang puisi cinta, tapi cinta yang udah patah dan nggak bisa direkatin lagi (as if...). tapi yang gue nggak ngerti, dari mana temen-gue-yang-nggak-mau-disebut-namanya-ini bisa menganalogikan kisahnya sebagai matahari dan bulan. sementara cuma Tuhan yang tau dengan pasti kisah cinta mereka, dia bisa bikin seolah mereka benar-benar dua sejoli yang berpisah.

Sapa Matahari kepada Bulan

Apakah engkau malu menyapaku ?
Aku tidak tahu
Hanya untuk sekedar bertemu melepas rindu, engkau pun tak mau

Jurang hitam telah menjadi sekat kita
Tejebak dan mengambang tanpa ruang berpijak
Aku berada diantara ribuan, bahkan jutaan

Mengendap-endap mengintipmu tapi engkau menutup wajahmu
Selalu ada yang menghalangi untuk memandangmu
Aku memberimu kehangatan, engkau malah memberikan keindahan
Untuk yang lain...

Aku mencoba memberimu kehidupan, tapi engkau tidak menerimanya
Atau memang takdir mengatakan demikian

Pernah kita bersama, lalu terpisah
Pernah kita sangat dekat, tapi engkau malah berputar menghindar

Aku ingin menggapaimu, untuk kesekian kali
Apakah kita di izinkan bersama?
Hanya Tuhan yang bisa menjawab

Atau mungkin saat kita bersama kembali, semua sudah berakhir

Kiamat 

A.A

Thursday, January 9, 2014

Semesta Bertelinga

Memang mengharukan dua insan yang saling merindukan
Saling mendoakan, meski tak sudi saling bertatapan

Kita pernah saling membenci, pernah juga saling memaki
Namun tidak demikian dalam lubuk hati
Jangan munafik, kita saling kehilangan
Saling mencari di sela kerjap angan

Aku selalu menanti datangnya hari ini
Walaupun tak sekalipun meyakini keberadaannya
Bagai bianglala seusai hujan
Ia ada, tapi tak di manapun

Teringat parasmu, seketika merindukan wajah itu menguntai senyum untukku
Serta sorot mata yang berceloteh riang, bercerita akan dunia hanya dengan kilas pandangan
Serta seringai yang manis, terasa meski tanpa kecupan

Walau seketika luruh memburam terhujan air mata
Ketika aku menangis berjanji pada semesta, apabila datang kesempatan kedua

Mengagumkan, betapa semesta memiliki telinga



nb: ceritanya tugas UAS

Saturday, December 14, 2013

Hala High School

gue udah ninggalin Jakarta berbulan-bulan, dan sampe sekarang pikiran gue masih ngga bisa lepas sama SMA. gue tau, semua orang juga menganggap SMA itu selalu jadi masa-masa terindah. semua orang bilang "kamu beruntung masih SMA". semua orang berharap kembali ke masa-masa SMA. tapi ngga semua orang cinta sama SMAnya.
gue? jujur gue bangga sama SMA gue. di manapun gue, gue selalu ngebanggain. gue cinta mati sama almamater. sebagai pengurus OSIS dulu gue tau busuk-busuknya sekolah, tapi itu sama sekali ngga bikin gue ilfil. kadang gue mikir, kenapa gue bisa segininya sama SMA gue, tapi nggak pernah segininya sama SD dan SMP?
maksudnya begini. waktu lulus SD gue merasa akan sangat kehilangan teman-teman SD gue. tapi ternyata, sebulan dua bulan gue masuk SMP, gue udah bisa merasa kerasan dan ngga selalu kebayang masa-masa SD. begitu juga sama SMP. gue merasa masa SMP ngga ada matinya. tapi ternyata kalah kok sama perasaan gue di SMA. tapi sekarang, gue masih selalu kebayang sama SMA. gue bukannya ngga kerasan sama tempat gue sekarang. THANK GOD I'M A PART OF COMMUNICATION PART OF SOLIDARITY AND FRATERNITY. gue dapet kok temen-temen deket yang super baik asik dan lucu serta beragam dan membanggakan juga keren membahana. tapi tetep ngga ngalahin bangganya gue sama SMA gue. mungkin gue agak berlebihan karena gue sering banget ngebangga-banggain SMA gue di depan temen-temen baru gue. tapi ya memang, sekolah ini berhasil menumbuhkan rasa cinta pada almamater. gue bangga sama senior gue, gue sayang sama adek kelas gue, no matter what (walaupun memang kadang gue maki-maki mereka kalo mereka ngeselin)
dan pemikiran gue sampai pada satu kesimpulan:
Trip Observasi.

gue tau kok ini capek, ini sulit. gue tau kok rasanya malu ke sekolah dikuncir dua belah tengah. gue tau kok rasanya pulang tengah malem karena ribetnya bikin nametag segede gaban yang ditempelin beras satu-satu, ditempelin bungkus kopi, bentuknya sulit ngga karuan. gue tau kok rasanya makan hati disuruh jaga nametag dan vendel dan tongkat. gue tau betapa capeknya bikin penelitian dan charta. gue tau betapa gue mau nangis berusaha keras untuk memahami dan menjawab argumen dari kakak POnya. gue tau gimana takutnya gue dipelototin dan dibentak-bentak sama kakaknya. gue tau betapa senengnya waktu ada guru yang ngebelain kami, bikin nametag jadi tidak sesulit seharusnya. gue tau kakak PO betapa mereka seperti peran antagonis dalam hidup yang harusnya dibenci dan dihindari semua orang. gue tau persis rasanya karena gue pernah ngerasain. 
awalnya gue mikir, apa sih maknanya? seru-seruan? iya seru, iya asik, iya baik bantu desa.
tapi setelah itu gue tau apa yang ditanamin ke kami. kami cinta angkatan kami, dan kami cinta sekolah kami.
kami diajarin basis tahan banting. kami diajarin basis bicara. kami diajarin basis radikal. kami diajarin caranya mempertahankan harga diri saat kami dianggap sampah. dan yang terpenting, kami diajarin apa itu solidaritas. gue tau kakak-kakaknya bukan cuma mau ngerjain kami, bikin kami susah, memelonco kami. gue tau bahwa ternyata mereka punya tanggung jawab moral untuk membentuk suatu angkatan. apapun yang mereka lakukan ke kami, setiap detilnya, sekecil apapun, ada implementasinya bagi angkatan kami untuk menjadi yang lebih baik.

tapi waktu tetap berjalan, dan tradisi apapun itu, jika tidak dipegang sangat erat, perlahan akan luntur dengan sendirinya. dan ini yang gue rasain.
berawal dari TO yang gue pegang. desa yang didatangi itu desa bagus, malah cenderung kota. apa? melatih mereka manja? menghindarkan mereka dari kesederhanaan?
berikutnya sesi lapangan ditiadakan. mana bisa mereka tahan banting?
berikutnya nametag diprint. mau TO atau mau seminar? lalu orang tua boleh ikut.
bahkan kami sudah kehabisan kata untuk berkomentar.

apa sih, ruginya? perihal orang tua yang protektif, yah gue memang belum pernah jadi orang tua, tapi yang gue tau, orang tue gue bisa ngasih kepercayaan ke gue, kalo gue bisa melakukan apa saja. toh anak-anak ini ngga bakalan sekarat hanya karena ikutan TO dan segala embel-embelnya. toh mereka sudah besar. anak-anak lambat laun akan tumbuh besar, mereka sudah SMA. usia mereka sudah cukup untuk diberi kepercayaan agak sedikit lebih banyak dari tahun sebelumnya. 

bagi gue cuma satu kata: nonsens.

mungkin salah gue masih ngurusin hal ini. gue bukan lagi bagian dari sekolah ini. gue cuma salah satu alumni yang belum ada setahun lulus, yang cinta sama sekolahnya, dan berusaha sedikit mengkritisi, berusaha menyadarkan orang-orang, cuma dengan tujuan membuat sekolah ini tidak kehilangan jati diri dan citranya.

Tuesday, November 19, 2013

Nasionalisme Bocah Perbatasan pada Film Tanah Surga…Katanya #BridgingCourse


Beberapa tahun belakangan ini, film yang bertemakan kebangsaan dan nasionalisme makin banyak bermunculan. Memang hal ini merupakan salah satu wujud rasa cinta tanah air bagi para sutradara lokal. Kali ini giliran Herwin Novianto sebagai sutradara muda yang unjuk kebolehan pada masyarakat Indonesia lewat film layar lebarnya yang kedua, Tanah Surga…Katanya.
Tanah Surga…Katanya adalah sebuah film satir yang bercerita tentang kehidupan di sebuah desa kecil di Kalimantan, yang mana merupakan perbatasan dengan Serawak, Malaysia. Dipaparkan secara nyata bagaimana masyarakat di sana hampir kehilangan jati diri mereka sebagai orang Indonesia, sebagai imbas pemerintah yang begitu tidak peduli terhadap daerah-daerah pelosok.
Diceritakan tentang Haris (Ence Bagus), seorang penduduk Kalimantan yang berdagang di Malaysia. Ia mengajak anak-anaknya, Salman (Osa Aji Santoso) dan Salina (Tissa Biani Azzahra), serta ayahnya, Hasyim (Fuad Idris), untuk bersama-sama pindah dan berganti kewarganegaraan ke Malaysia demi kehidupan yang lebih sejahtera. Namun Hasyim, yang dulunya merupakan pejuang Dwikora, menolak keras ajakan tersebut. Ia bersikukuh untuk tetap tinggal di tanah Indonesia, tak peduli apapun iming-iming yang diberikan padanya.
Tak hanya dari segi kesejahteraan ekonomi, sisi pendidikan dan kesehatan juga disorot lebih jauh melalui karakter seorang guru bernama Astuti (Astri Nurdin) serta seorang dokter muda dari kota, Dr.Anwar (Ringgo Agus Rahman). Ibu Astuti yang secara tidak sengaja ditempatkan di desa itu, menjadi guru satu-satunya. Ditunjukkan bagaimana mirisnya bocah-bocah Indonesia tidak tahu bendera Negara mereka, mata uang Negara mereka, bahkan lagu Indonesia Raya, lagu kebangsaan mereka. Bentuk fisik sekolah yang bobrok juga menambah kesan dramatis. Sekolah itu hanya memiliki satu ruang kelas dengan satu papan tulis yang diberi sekat hanya untuk kelas tiga dan kelas empat. Entah bagaimana nasib anak-anak kelas satu, dua, lima, dan enam. Sementara itu, kehadiran Dokter Anwar juga menunjukkan bagaimana sulitnya daerah pelosok mendapat supply obat dari kota terdekat, serta betapa jauh rumah sakit yang bahkan terletak paling dekat dari situ.
Osa Aji Santoso sebagai bocah pemeran utama dalam film Tanah Surga…Katanya juga sukses menarik simpati penonton dengan aktingnya yang begitu kokoh mencerminkan sosok Salman. Karakter sebagai bocah yang kuat, tegar, dan kritis berhasil ia tampilkan dengan baik. Bahkan beberapa adegan yang dimainkannya sempat mengundang haru. Misalnya ketika ia berlari dengan gembira menyusuri jalan perbatasan Malaysia dan Indonesia, yang mana menampilkan ironika jalanan aspal milik Malaysia yang langsung berbatasan dengan jalanan tanah setapak milik Indonesia. Sosok Salman pada saat itu dengan begitu kuatnya memancarkan kebanggaan, berlari sambil membawa selembar bendera merah putih kumal. Bagi saya, adegan ini adalah adegan puncak di mana para penonton akan diam-diam menyusut air mata haru mereka.
Sayangnya, Kalimantan sebagai daerah Indonesia yang terhitung memiliki kekayaan alam yang layak dipamerkan malah tidak banyak dieksplorasi dan ditampilkan ke atas layar. Memang, beberapa kali ditampilkan sungai berair biru jernih sebagai ciri khas Kalimantan Barat, namun entah mengapa tidak dibuat mengesankan dan indah. Berbeda dengan film-film Indonesia yang memiliki tema menyerempet aspek nasionalisme lainnya, seperti Laskar Pelangi dengan latar Belitung,  atau film 5cm dengan Gunung Semeru. Film-film ini, walaupun tidak habis-habisan diekspos, namun cukup berkesan dengan menggambarkan sisi keindahan Indonesia.
Secara konsep, film ini memang patut diacungi jempol. Latarnya jelas dan menarik, mengangkat tentang daerah perbatasan yang notabene jarang dilirik orang. Nilai moral dan pesan etika yang ditanamkan juga sampai dengan mulus, meninggalkan kesan yang mendalam bagi para penonton. Namun, ada hal yang bisa kita kritisi dari konsep ini. Indonesia dan Malaysia bisa diibaraatkan seperti anjing dan kucing yang selalu berkonflik dari masa ke masa. Film ini memang tak bermaksud menanamkan rasa antipati terhadap Negara tetangga, namun kesalahan penafsiran dari penonton bisa saja menimbulkan kebencian terhadap Malaysia, walaupun sama sekali tak dimaksudkan demikan.
Selain itu, terdapat beberapa keganjilan yang muncul lewat adegan-adegan pemain. Misalnya, ketika adegan para pemain sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Pada saat itu, di atas sampan di tengah danau, maut menjemput Hasyim. Ketika itu pula Salman menelepon ayahnya yang berada di Malaysia mengabari kematian sang kakek. Padahal, di beberapa adegan sebelumnya, terlihat Dokter Anwar kesulitan mencari sinyal telepon, sampai harus naik ke atap sebelah antena televisi demi memesan obat-obatan. Juga ketika ibu guru Astuti memberi Salman sebutan “murid terbaik kami”, padahal sebelumnya yang ditunjukkan hanyalah sekali Salman mendapat nilai empat, sementara teman-temannya mendapat nilai nol. Selebihnya yang ditunjukkan adalah ketika Salman membolos sekolah demi bekerja untuk biaya berobat kakeknya, tidak menampilkan dengan jelas di mana letak ‘murid terbaik’ tadi. Adegan-adegan kecil ini mungkin luput dari pertimbangan dan perhatian sutradara. Pun begitu, tak banyak mengganggu jalan cerita utama kisah ini.

Tanah Surga…Katanya memang bukan satu-satunya film yang bertema nasionalisme. Secara keseluruhan juga merupakan film yang apik dan pantas untuk ditonton, walau bukan merupakan film istimewa. 

Friday, November 1, 2013

my very first straight news writing!

Tugas bikin straight news sebagai nilai UTS kemaren sempet bikin gue keinget kalo gue pernah iseng bikin tulisan semacem ini. Ceritanya waktu itu lagi Pensador Cup, dan Nitrogen juara 1. Akhirnya gue iseng dan bikin tulisan semacem ini. Waktu itu banyak anak nitro yang ngelike sama komen, suka sama tulisan ini. Baca-baca lagi rasanya jadi lucu sendiri. Berhubung beberapa bulan terakhir blog ini gue cuma diisi bridgingcourse, jadi ya gue post aja biar ngga suwung-suwung banget.

Euforia Kemenangan Nitrogen
By Alya Chandra Pinanditha on Tuesday, April 19, 2011 at 8:10pm

PANGKALAN JATI – Nitrogen membabat habis Semur Jengkol dalam pertandingan mereka pada Pensador Cup, siang ini, di Bengkel Futsal Rinjani. Memang patut diakui, kelas ini memiliki armada pertahanan futsal yang kuat, ditambah lagi dua orang pemain baru, Rachino dan Imam.
Tidak seperti pertandingan Sword (classmeeting –red) empat bulan yang lalu, kali ini Nitrogen sama sekali tidak melakukan diving. Memang terlihat dua kali macan Nitrogen, Prayudha dan Marvi terlihat terbaring di lapangan karena terciderai lawan, tapi patut dipercaya bahwa kali itu memang bukan diving.
Awal pertandingan memang Nitrogen sempat tercampak 2-0, tetapi para supporter Nitrogen tetap tidak patah semangat, menyanyikan yel-yel dengan semangat ‘itu biasa, cuma hoki!’. Benar saja, setelah Marvi memasuki lapangan, keadaan langsung membaik menjadi 2-1. Sempat kebobolan sekali lagi 3-1, tapi para pasukan ngaso langsung menyamai kedudukan menjadi 3 sama, untuk seterusnya menjadi unggul 6-3. Peluit wasit pun berbunyi menandai selesainya babak pertama.
Memasuki babak kedua, kiper Ammarsha digantikan oleh Jelidun. Berbagai penyelamatan heroik terjadi olehnya. Satu kejadian paling menegangkan ketika SJC sempat membawa bola sampai ke depan gawang Nitrogen, bola ditepis oleh Jelidun tapi tetap berada di mulut gawang. Beberapa pasukan berjersey biru ini sempat terbaring di depan gawang memperebutkan bola dengan beberapa anggota SJC yang bahkan masih berdiri, tapi memang karena Dewi Fortuna sedang berada di pihak biru, maka bola menggelinding mejauhi gawang Nitrogen yang langsung diiringi sorak sorai para supporter Nitrogen yang juga berseragam biru di luar lapangan.
Sekali kacamata kiper Jelidun terhantam bola, dan langsung dilempar ke luar lapangan oleh sang pemiliknya. Sejenak para supporter merasa khawatir, karena minus Jelidun nampaknya cukup tebal (-_-). Tetapi ternyata kekhawatiran tersebut tidak beralasan, karena lagi-lagi berbagai penyelamatan heroik dapat dilancarkan olehnya bahkan tanpa kacamata.
Sekitar pertengahan babak kedua, Imam memasuki lapangan menggantikan Fadhil. Tak lama setelah ia masuk, pemain selebriti tak bersepatu ini dengan halus melancarkan salto cantiknya, yang diiringi sorak sorai ‘Imam ganteng’ oleh para supporter wanita yang histeris di luar lapangan.
Sampai akhir pertandingan, Nitrogen kebobolan dua kali lagi, tetapi tetap berhasil berkali-kali menjebol gawang SJ yang dijaga oleh Steven Rio. Skor akhir berubah menjadi 11-6, keunggulan tetap berada di pihak Nitrogen berkat kerjasama mereka yang kokoh.
“Kita sekarang udah tau banget kalo mainnya SJ itu menjatuhkan mental, tadi Esa (anggota SJ-red) di awal pertandingan sempat memanas-manasi kita, ‘mana nih nitrogen mainnya cuma segini?’ tapi kita udah gak emosi lagi mainnya, kita udah ngerti taktiknya, kita tetep santai mainnya gak kebawa emosi. Gantian tadi gue yang bilang ke dia ‘mana nih semur jengkol mainnya cuma segini?’ emosi kan dia mainnya?” ujar Marvi sambil tertawa usai pertandingan.
Kita memang patut berbangga hati atas pasukan berjeysey: Marvi, Prayudha, Eldo, Ammarsha, Fadli, Fadhil, Rachino, dan Imam. Tetapi kita harus tetap berharap semoga awak-awak Nitrogen tidak terlarut dalam euforia kemenangan Pensador Cup, karena masih ada pekerjaan rumah dari Bu Martha yang menanti. (alya)

Tuesday, October 22, 2013

Menggugat Pers dan Negara (Resume) #BridgingCourse

Oleh: Amir Effendi Siregar

Gugatan tentang profesionalisme dan independensi pers tentang kepemilikan kini sering dilayangkan oleh para petinggi Negara. Namun, banyak pihak yang juga menujukan gugatan tersebut kepada negara sebagai regulator utama. Jumlah media di Indonesia kurang banyak dan terlalu terkonsentrasi pada satu orang atau badan pemilik, serta hanya terpusat di provinsi-provinsi besar. Media belum tersebar secara merata di Indonesia, karena kenyataannya masih banyak wilayah yang belum terjangkau media. Media cetak baru beredar pesat di daerah urban. Total sirkulasi dan jumlah eksemplar masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk, bila mengikuti standar UNESCO. Survei membuktikan bahwa internet baru menjangkau hampir 25% dari keseluruhan penduduk, sementara televisi swasta 78%. Selain itu, televisi swasta lebih diorientasikan untuk penduduk di kota, yang isinya seragam. Dari sekitar dua ratus atau tiga ratus stasiun televisi dikuasai oleh 10 stasiun televisi yang berpusat di Jakarta.
Regulasi media di Negara demokratis dibagi dua. Pertama, media yang tidak menggunakan wilayah publik atau frekuensi umum. Media jenis ini memiliki aturan sendiri yang diregulasi oleh organisasi pers masing-masing. Kedua, media yang memakai wilayah publik atau frekuensi seperti radio dan televisi. Media jenis ini memiliki peraturan yang lebih ketat, seperti izin, isi, kepemilikan, dan kecenderungan (harus netral dan tidak berpihak). Namun yang menjadi masalah, kini kenyataan stasiun televisi isinya seragam dan pemusatan kepemilikan yang berlebihan.
Pengatur utama dunia penyiaran adalah KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), Kementerian Kominfo, dan Bapepam-LK. KPI sudah banyak memberi sanksi tentang konten, namun kurang tegas soal independensi dan ketidakcenderungan yang terkandung di dalam isi. Maka dari itu, untuk kasus kepemilikan, Kementerian Kominfo harusnya lebih tegas sebagai regulator utama.
Peraturan pemerintah menyatakan bahwa seseorang atau badan hukum secara langsung ataupun tidak langsung hanya boleh memiliki paling banyak dua stasiun televisi di dua provinsi berbeda. Kenyataannya, seseorang bisa menguasai lebih dari satu stasiun televisi, bahkan tiga di satu provinsi.

Kesimpulannya, pers Indonesia serta regulator media harus lebih meningkatkan mutu. Bila tidak, kita harus menelan kenyataan pahit bahwa kapitalisme telah menguasai segalanya, tak ada lagi bentuk independensi dan demokrasi.

Sunday, October 13, 2013

Sekilas Pandangan Tentang Fast Food (suntingan) #BridgingCourse

Ketika mendengar kata ‘Fast Food’ biasanya yang terlintas di pikiran kita adalah makanan seperti burger, dan dengan otomatis kita tersugesti untuk membeli burger. Padahal toh kita tidak kenyang saat menyantap burger mahal itu. Pernah juga di Sabtu malam yang ramai, dengan begitu tiba tiba, terlintas di benak saya begitu nikmatnya lelehan keju yang ada di pinggiran pizza.

Suatu sore di kala mentari mulai terbenam, dengan sangat tiba-tiba terlintas di benak saya untuk menikmati nikmatnya ayam KFC, salah satu merek makanan Fast Food yang banyak digemari. Memang benar, fakta membuktikan bahwa ayam goreng KFC sangat digemari oleh anak-anak jaman sekarang. Bahkan yakiniku buatan mereka adalah makanan favorit saya. Strategi pemasaran Fried chicken di Indonesia memang sangat baik. Iklan ayam KFC yang besar-besaran, terlebih dengan menggandeng  Agnes Monica sebagai salah satu bintang mereka, selalu berhasil membuat saya ingin melahap TV. 

Kemarin siang pula saya makan kwetiaw goreng di Gelanggang Food Court. Memang sudah rahasia umum, bahwa peredaran Fast Food sangat berbanding terbalik dengan peredaran makanan tradisional. Di Jogjakarta sendiri, sudah banyak outlet-outlet yang menawarkan makanan cepat saji. Salah satu makanan cepat saji yang banyak digemari mahasiswa adalah Olive Chicken.

Makanan cepat saji saat ini mudah untuk dijumpai. Ada banyak restoran Fast Food yang murah dan enak di Indonesia, contohnya pizza, hot dog, burger, ayam fried chicken, sampai mie rebus. Memang, salah satu Fast Food  yang paling favorit di Indonesia adalah mie instan, misalnya Popmie, yang menjadi pilihan utama mahasiswa akhir bulan karena harganya murah. Indomie merupakan salah satu makanan favorit anak kos di akhir bulan atau ketika sedang dilanda kekeringan finansial.

Fast Food saat ini sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang asing bagi masyarakat indonesia. Fast food sangat diminati oleh semua orang, dan cenderung oleh remaja dan anak-anak. Makanan cepat saji menjadi solusi utama untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Pada dasarnya, tuntutan semua harus serba cepat adalah salah satu faktor utama eksistensi Fast Food di dunia. Fast Food sudah  menjadi makanan alternatif dan tren sebagai alasan kesibukan, terutama mahasiswa. Makanan instant dan cepat saji adalah sasaran utama mereka. Tugas yang tidak sedikit, kegiatan di luar akademik, serta waktu yang tidak banyak menuntut mahasiswa sekarang untuk memakan makanan yang tidak membutuhkan waktu banyak. 

Makanan cepat saji saat ini menjadi pilihan utama bagi masyarakat indonesia, karena selain enak, harganya pun cukup terjangkau -- namun hanya bagi kalangan atas. Penyajian  Fast Food yang cepat dan menarik membuat orang-orang menyukai Fast Food. Karena hal-hal itulah Fast Food menjadi idola dan kian diminati oleh konsumen kelas tinggi dalam memilih makanan.

Namun lain lagi dari sudut pandang mahasiswa, Fast Food sangat tidak sehat untuk kesehatan badan dan ‘kesehatan dompet’. Tentu saja, apalagi bagi anak kos, harga Fast Food itu terbilang mahal. Selain itu bagi saya, Fast Food itu tipe makanan yang sudah tidak sehat, mahal pula. 

Fast food itu sendiri juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan. Fast Food adalah makanan cepat saji yang diduga sangat tidak sehat jika terlalu sering dikonsumsi. Celakanya, tidak semua tahu apa akibat yang ditimbulkan dengan mengkonsumsi berlebihan dalam jangka waktu lama. Seringnya mengkonsumsi Fast Food menyebabkan tubuh rentan akan penyakit. Terlalu sering memakan makanan Fast Food dikhawatirkan membuat generasi muda menjadi lebih mudah terserang penyakit. Makanan cepat saji memang tidak membutuhkan waktu yang lama ketika kita memesannya, tapi makanan tersebut belum tentu diolah secara baik.

Maka dari itu, Fast Food memang sangat membantu karena penyajiannya yang cepat, namun sisi negatifnya adalah karena mereka cenderung lebih mahal dan kurang menyehatkan bagi tubuh.